KOLOID DAN SENY…

Published Juni 6, 2012 by rianasantrianah

KOLOID DAN SENYAWA BENZENA

 

Koloid adalah campuran dari dua atau lebih zat yang salah satu fasanya tersuspensi sebagai sejumlah besar partikel yang sangat kecil dalam fasa kedua. Zat yang terdispersi dan medium penyanggahnya dapat berupa kombinasi gas, cairan, atau padatan. Partikel koloid lebih besar daripada satu molekul tetapi terlalu kecil untuk dilihat oleh mata, dimensi diameternya berkisar dari 10-9 sampai 10-6 m. Beberapa koloid memisah menjadi dua fasa terpisah jika didiamkan cukup lama, campuran lain bertahan sangat lama, suspensi partikel emas yang disiapkan oleh Michael Faraday tidak menunjukkan pemisahan nyata sampai sekarang. Pada banyak koloid, partikel mempunyai muatan bersih positif atau negatif pada permukaannya, diimbangi oleh muatan ion lawannya dalam larutan. Pemisahan koloid semacam ini dipercepat oleh pelarutan garam dalam larutan itu, proses ini dinamakan flokulasi. Garam mengurangi gaya tolak elektrostatik diantara partikel yang  tersuspensi, menyebabkan agregasi dan pengendapan (sedimentasi). Partikel tersuspensi berada dalam keadaan gerak tetap yang disebut gerak Brown yaitu akibat dari kocokan acak tetapi tetap pada partikel oleh molekul pelarut (Oxtoby, 2001 : 178).

Sistem koloid mempunyai beberapa sifat yang khas, yang berbeda dengan sifat sistem dispersi lainnya yaitu : (Chang, 2005 : 355)

  1. Efek Tyndall merupakan peristiwa penghamburan cahaya oleh partikel-partikel koloid sehingga tampak titik-titik terang dalam suatu berkas cahaya.
  2. Gerak Brown merupakan gerak partikel koloid dengan lintasan yang lurus dan arah yang acak. Gerak Brown ini terjadi akibat adanya tumbukan partikel-partikel pendispersi terhadap partikel terdispersi, sehingga partikel terdispersi terlontar. Gerak Brown mengakibatkan partikel-partikel koloid relatif stabil.
  3. Adsorpsi adalah peristiwa menempelnya zat asing pada permukaan suatu partikel koloid sehingga partikel koloid bermuatan. Banyaknya zat asing yang dapat diabsorpsi bergantung pada luas permukaan partikel koloid.
  4. Elektroferesis yaitu perpindahan partikel koloid karena pengaruh medan listrik selain dapat digunakan untuk menentukan jenis muatan koloid, sifat elektroferesis juga dapat digunakan untuk memisahkan (memurnikan) dispersi koloid dari pengotor.
  5. Koagulasi adalah peristiwa penggumpalan dispersi koloid. Koagulasi dapat terjadi oleh peristiwa mekanis atau peristiwa kimia.
  6. Koloid pelindung yaitu koloid lain yang ditambahkan pada suatu koloid untuk menstabilkannya. Koloid pelindung ini akan membungkus partikel zat terdispersi, sehingga tidak dapat lagi mengelompok.
  7. Dialisis yaitu proses menghilangkan ion-ion pengganggu melalui selaput semipermeable.

Koloid dapat dibuat dari larutan sejati melalui cara kondensasi dan dari larutan suspensi dengan cara dispersi, yaitu : (Sunarya, 2008 : 215)

  1. Cara dispersi adalah pemecahan partikel-partikel kasar menjadi partikel-partikel koloid. Cara ini dapat dilakukan dengan :

1)      Busur listrik Bredig, dilakukan dengan memberi aliran listrik pada dua kawat elektrode yang dicelupkan dalam air. Letak kedua elektrode berdekatan sehingga logam elektroda larut dalam air membentuk sel logam akibat terjadinya loncatan bunga api.

2)      Peptisasi adalah pembuatan koloid dari butir-butir kasar dengan bantuan zat peptisasi dan pengadukan.

3)      Cara mekanik adalah pembuatan koloid dengan cara digerus sehingga terbentuk koloid.

4)      Homogenisasi yaitu pembuatan koloid dengan mesin sehingga dapat membuat zat menjadi homogen dan berukuran koloid.

  1. Cara kondensasi adalah penggabungan partikel-partikel halus dari larutan sejati menjadi partikel yang lebih besar. Cara kondensasi umumnya dilakukan dengan reaksi kimia, yaitu :

1)      Reaksi hidrolisis adalah reaksi dengan air. Digunakan untuk membuat koloid-koloid basa dari suatu garam yang dihidrolisis. Contoh :

FeCl3(aq) + 3H2O (l)                           Fe(OH)3(s) + 3HCl(aq)

2)      Reaksi redoks adalah reaksi yang disertai perubahan bilangan oksidasi

Contoh :  2H2S(g) + SO2 (aq)                             2H2O(l) + 3S(s)

3)      Pertukaran ion dilakukan untuk membuat koloid dari zat-zat yang sukar larut yang dihasilkan dari reaksi kimia.

Contoh :   3H2S (g) + As2O3 (aq)                                As2S3(s) + 3H2O(l)

4)      Reaksi metatesis

Contoh : N2S2O3  + 2HCl                               2NaCl + H2SO3 + S

Dalam pengambilan logam dengan cara koagulasi, limbah elektroplating ditambahkan koagulan yang dapat menyebabkan senyawa dalam limbah tersebut (dalam hal Ni) mengalami ketidakstabilan (destabilasi). Ketika koagulan ditambahkan ke dalam air limbah maka koagulan akan terdisoasi dan ion logam akan mengalami hidrolosis dan menghasilkan ion kompleks logam hidroksi yang bermuatan positif dan teradsorpsi pada permukaan koloid negatif. Akibat dari destabilasi, partikel mengalami flokulasi. Kemudian flok-flok yang terbentuk semakin besar karena pengadukan dan mengalami pengendapan. Semakin banyak koagulan maka semakin banyak Ni terlarut yang dapat dikoagulasi dan mengendap, sehingga konsentrasi Ni terlarut sisa semakin sedikit. Dalam proses koagulasi, limbah cair ditambahkan bahan kimia (koagulan) yang dapat menyebabkan senyawa dalam limbah tersebut tidak stabil. Kemampuan masing-masing koagulan untuk menyebabkan ketidakstabilan senyawa tersebut tergantung pada jenis logam aktif yang terkandung dalam koagulan dan kemampuan disoasinya (Hakim, 5-6).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: